kisah nyata dari seorang pelajar yang berasal dari keluarga sederhana.
Ada seorang anak yang berumur 15 tahun, dia berasal dari keluarga
kalangan menegah ke bawah. Dia bernama Yanti Firda Firdaus, panggil saja
dia yanti. Ketika itu dia lulus SMP dan sedang bingung dengan nasib
pendidikan selanjutnya. Ketika teman-teman seperjuangnnya sibuk
kesana kemari untuk memilih sekolah SMA favoritnya, berbeda dengan
dirinya yang masih bingung akan nasibnya. lanjut sekolah adalah
impiannya bahkan dia ingin sekali bisa mengenyam pendidikan setinggi
mungkin. Namun, apa daya keadaan ekonomi keluargalah yang akhirnya
membuatnya harus berpikir keras untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Besok
adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru SMA tapi sampai saat ini
bapak masih belum bisa memutuskan apakah saya lanjut sekolah atau tidak.
Bapak bilang kalau yanti lanjut SMA nanti dari mana biayanya. Yantipun
terus berpikir bagaimana caranya dia mendapatkan uang nanti untuk biaya
sekolahnya. malam pun tiba, mesti belum tentu akan melanjutkan sekolah,
yanti tetap belajar. Ketika dibangku SD dan SMP Yanti dikenal salah satu
siswa yang cukup pandai akan pelajaran matematika. Malam itu yanti
belajar matematika dengan santainya padahal dia tahu hari besok adalah
hari terakhir pendaftaran siswa baru SMA.
Ibu: Yan lagi ngapain?
Yanti: gak lagi ngapa-ngapain bu
Ibu: Ko masih blajar yan, kan bapak sudah bilang gak bisa biayain sekolah yanti lagi
Yanti: Tapi bu....Yanti ingin lanjut SMA kaya teman-teman Yanti, Kemaren pak guru bilang kalau yanti harus lanjut sekolah SMA, kata pak guru sayang kalau gak dlanjutin ke SMA.
Ibu: Iya, ibu juga inginnya begitu, tapi kan yanti lihat sendiri bapak sama ibu gak punya uang, bapak sama ibu cuma kuli tani.penghasilan ibu cuma cukup buat bayar ade yanti sekolah. Yanti kan tau kemaren pas Yanti SMP saja, yanti sering telat bayaran, trus gak pernah beli buku LKS. emang Yanti gak cape harus nulis setiap bapak/ibu guru ngaih tugas dari LKS. ketika teman-teman Yanti sibuk menjawab, Yanti baru sibuk nulis soal-soalnya. Ibu kasihan sama Yanti. Ibu gak mau lihat anak ibu cape.
Yanti: Gak papa bu, Yanti siap ko dengan resiko nanti, yang penting yanti lanjut sekolah bu.
Ibu: Kalau nanti dari sekolah minta uang gedung, terus kita gak mampu bayar gimana yan? (dengan raut muka sedih)
Yanti: Ibu sekarang yang penting Bapak sama ibu kasih restu buat yanti mendaftar ke SMA. Apapun yang akan terjadi besok, yanti siap, yang terpenting kita sudah berusaha.
Ibu: Emang mau daftar ke SMA mana yan?
Yanti: Yanti mau daftar ke SMA negeri 2 ......
Ibu: Uang pendaftarannya gimana?
Yanti: Kata pak opoy (nama guru samaran) cuma Rp 7.000
Ibu: ko Rp 7.000
Yanti: iya bu itu buat formulir aja. nanti biaya yang lain dibayarnya kalau udah masuk sekolah.
Ibu: Yanti punya uang segitu gak:?
Yanti: Yanti cuma punya Rp3.000 bu masih kurang Rp 4.000
Ibu: oh...ya sudah coba minta sama bapak
Yanti: Beneran ibu izini yanti sekolah lagi.
Ibu: Iya Insya Allah kita hadapi bareng-bareng kedepannya. Tapi Yanti harus bisa dapat beasiswa biar bapak sama ibu gak berat biayain sekolahnya.
Yanti: Iya bu, yanti siap berusaha keras. Demi impian yanti dan demi senyuman ibu sama bapak.
Ibu: ya sudah sana minta uang yang Rp4.000 sama bapak ya.
Ibu pergi sambil mengelap air mata. Ibu yanti adalah sosok ibu yang
ketika menangis tidak ingin terlihat oleh anak-anaknya. Seberat apapun
cobaan yang dipikul, ibu yanti akan berusaha untuk menutupinya.
Besok harinya yantipun mendaftar sebagai siswa baru di sekolah yang baru
berdiri yaitu SMA Negeri 2....Biaya sekolah di sini lebih murah
dibanding dengan sekolah-sekolah yang lain. Mungkin karena masih baru
berdiri. Yanti dan teman-teman adalah angkatan pertama di sekolah ini.
Ketika kegiatan Masa Orientasi Siswa, yanti dan teman-teman dibimbing
oleh siswa dari SMA negeri 1....kebahagian yang amat mendalam,mungkin
seperti mimpi bisa mengikuti kegiatan ini. kemaren yanti masih bingung
dan sedih bisa sekolah lagi atau tidak, sekarang yanti sudah di SMA, Ya
Rabb terima kasih atas nikmat MU. Yantipun terus mengucapkan rasa syukur
itu. Hingga beberapa bulan yanti nikmati sekolahnya dan datang suatu
masa dimana dia ditaggih uang bayaran dan uang bangunan. mmmm...lemes
seketika....Ya Rabb ini harus bagaimana bapak blum punya uang. Kemudian
yantipun memberanikan diri untuk bilang ke bapaknya kalau sudah ditaggih
uang sekolahnya.
Yanti: pak, mmmm....tadi Yanti ditaggih uang gedung
Bapak: Uang gedung...(terdiam sejenak)....berapa bapak lupa
Yanti: Rp 2.000.000 pak
Bapak: Rp 2.000.000 ya udah nanti coba bapak pinjem ke Uwa (panggilan untuk kakak dari Ibu/bapak)
Yanti: iya pak
Sudah beberapa hari tapi bapak belum ngasih juga, gimana ini, yantipun kebingungan. Akhirnya yanti bertanya lagi.
Yanti: pak uang untuk bayar sekolah sudah ada blum?
Bapak: uwa cuma pinjemin Rp 1.000.000 yan
Yanti: Gak papa pak, nanti biar yanti bicara sama ibu guru. kalau baru bisa bayar segituh.
Bapak: oh ya udah nanti bapak bilang uwa dulu ya.
Yanti: iya pak
akhirnya yanti bayar Rp1.000.000 dan meminta perpanjangan waktu kepada pihak sekolah. Alhamdulillah pihak sekolah memberi perpanjangan waktu hingga akhir semester 2. inilah nikmat Allah yang lagi-lagi diberikan kepada hambaNya.
Di SMA yanti dikenal dengan siswa yang pandai Matematika dan aktif organisasi. Dia mengikuti organisasi Bantara dan Paskibra. Setiap hari jumat dia mengikuti latihan Bantara dan hari minggu latihan Paskibra. Di organisasi ini Yanti diajarkan mandiri , perduli dengan sesama, siap berkorban untuk negara dan masih banyak pelajaran yang bisa diambil dari organisasi ini.Tidak hanya sibuk organisasi saja, Yanti juga mengikuti les matematika bersama teman-teman yang akan mengikuti olimpiade matematika. Dengan perjuangannya akhirnya yantipun mendapat bantuan dari pihak sekolahnya. Setiap tahun yanti hanya membayar biaya kuliah satu semester saja sedangkan yang satu semesternya lagi gratis dengan syarat harus aktif di organisasi dan nilai akademiknya juga bagus. Yanti menyanggupi syarat tersebut. Tidak hanya itu bapak dan ibu guru Matematika selalu memberikan perhatian lebih kepada yanti. setiap awal semester yanti selalu di berikan buku paket matematika dan alat tulis. Subhanallah....nikmatMU teramat banyak. Keyakinan untuk sukses semakin kuat. hari-hari berikutnya dijalani yanti lebih semangat. Setiap pulang sekolah yanti mencari uang. terkadang disuruh tetangga atau saudara mengantarkan padi ke pabrik dengan sepeda untuk digiling. Berat...sudah pasti berat..tapi yanti menjalaninya dengan senang. terkadang membantu mencuci mangkok baso punya kakaknya atau membantu beres-beres di rumah neneknya. Uang yang di kasih oleh saudara, tetangga, kakak, dan neneknya ia kumpulkan. Uang yang terkumpul untuk membeli LKS jadi tidak minta ke bapak lagi. Alhamdulillah bisa memperingan beban bapak dan ibu. hal ini yanti lakukan hingga dia lulus SMA.
Bersambung...
nantikan kisah selanjutnya
Yanti di bangku kuli dan yanti di bangku kuliah
nantikan kisah selanjutnya
Yanti di bangku kuli dan yanti di bangku kuliah
Semoga teman-teman senang membacanya.
By
-SPS-