Minggu, 05 Juni 2016

Perjuangan Mahasiswa perantau dan pekerja



Perjuangan Mahasiswa perantau dan pekerja

Kami langkahkan kaki ini menuju kota, meninggalkan kampung halaman tercinta untuk mengejar sebuah cita-cita. Hidup dengan penuh suka cita membuat hidup lebih berwarna dan berharga. Kami adalah manusia-manusia yang hanya bisa terus berusaha untuk mewujudkan satu persatu impian yang telah lama kami ukir dengan penuh keyakinan. kami tekadkan hati ini untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan hasil dari kerja keras kami. Perjalanan yang kami lalui tidak selalu mulus namun banyak batu-batu kerikil yang membuat kaki ini tidak bisa berjalan dengan cepat. Terkadang kaki kami terkilir bahkan berdarah dalam melalui perjalanan hidup ini. Namun, hal ini tidak memadamkan semangat kami untuk terus mengejar impian kami. Kami adalah pejuang-pejuang yang ingin memajukan kehidupan keluarga baik dalam segi ekonomi ataupun pendidikan. kami harus berjuang untuk menghasilkan pundi-pundi uang untuk biaya kuliah kami. Siang malam kami bagi waktu untuk bekerja, kuliah dan istirahat. Lelah? semua perjuangan memang melelahkan, begitupun dengan kami, kami yang terkadang merasa lelah dengan jalan hidup ini. Waktu bagi kami sangat berharga, hari libur kerja kami gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah yang sudah menumpuk. Ketika mahasiswa lain tertidur pulas, mungkin berbeda dengan kami yang harus berdiri di depan mesin pencetak makanan ataupun barang-barang elektonik dan otomotif semalaman. Ngantuk? sudah pasti ngantuk, namun apa daya, ini adalah kewajiban kami sebagai kuli-kuli pabrik. Jika kami berhenti bekerja maka itu bertanda ancaman bagi keberlangsungan pendidikan kami. Tidak sedikit dari kami yang kebingungan bahkan menangis ketika menjelang ujian karena belum bisa melunasi biaya kuliah. Uang kuliah yang semakin meningkat membuat hidup kami semakin terpuruk. Kami bertahan dengan saling membantu dan menyemangati satu sama lain. Tidak jarang diantara kami yang mengabaikan kondisi kesehatan sendiri, yang terpikir oleh kami hanya bagaimana kami bisa menghasilkan uang dan bisa lancar kuliah. Namun, kami merasa bersyukur karena Allah telah mempererat ikatan persahabatan kami. Jika salah satu diantara kami sakit maka teman yang lain akan mengingatkan yang sakit walau hanya sekedar mengingkatkan untuk beristirahat. Kami hanya berharap perjuangan ini berujung kebahagiaan. kami berharap impian yang kami nanti-nantikan akan terwujud. Ya, Kami para mahasiswa perantau dan pekerja yang berusaha mengejar impian kami.

Semangat buat teman-teman pekerja yang sedang mengejar cita-cita. yakinlah perjuangan kalian tidak akan sia-sia. PIKIRKAN dan LAKUKAN SEGERA, JALANI dan NIKMATI.

By:
-SPS-

Rabu, 01 Juni 2016

Bukan kekayaan yang membuat kita bahagia


Kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya

Hidup berkecukupan merupakan keinginan bagi setiap manusia. Namun, terkadang kenyataan amat berbeda. Kebanyakan masyarakat desa harus menguras keringatnya hanya untuk bertahan hidup, begitupun dengan keluarga yanti. Ayah dan ibu yanti berprofesi sebagai buruh tani. Setiap hari harus pergi ke sawah untuk bekerja sebagai buruh tani. Penghasilan rata-rata keluarga yanti Rp40.000. uang inilah yang digunakan keluarga yanti untuk kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah yanti dan adiknya. Terkadang jika tidak ada tetangga yang menggunakan jasa ibu dan bapak, ibu harus meminjam uang ke saudara  untuk jajan yanti dan adiknya di sekolah. Jika saudara tidak ada uang terkadang ibu yanti menjual beras. Yanti memang terkadang marah jika tidak dikasih uang jajan karena ia sekolah seharian. Ia selesai belajar pukul 14.00 dilanjut organisasi atau mengerjakan tugas kelompok. yanti meminta uang saku tidak setiap hari tetapi jika memang ada kegiatan les tambahan, organisasi atau akan mengerjakan tugas di rumah teman. Uang yang dikasih ibu biasanya ia gunakan untuk membeli gorengan atau minum sekedar untuk mengisi perut. Ketika teman-teman yang lain membeli makanan seperti mie ayam dan baso, bagi yanti cukup gorengan saja. Makan mie ayam atau baso hanya pada saat-saat tertentu saja ketika ada moment spesial, seperti moment kenaikan kelas atau ulang tahun teman. Jika uang jajan tersebut tidak digunakan maka ia akan mengumpulkan uang tersebut untuk membeli kebutuhan sekolah. 
Yanti adalah anak ke 5 dari 6 bersaudara dan semua kakaknya sudah berkeluarga. Menurut Bapak dan Ibunya, ia dikenal sebagai anak yang keras kepala. Jika meminta sesuatu harus dituruti, jika tidak dituruti, ia akan menangis sampai ibu dan bapaknya menuruti apa yang menjadi keinginannya. Ketika ayahnya marah tak jarang yanti disiram dengan air seember. Namun, yanti terus menangis tak menghiraukan ayahnya. Yanti tak pernah meminta hal yang lain kecuali meminta bayaran saat esok hari akan ujian dan meminta baju baru ketika menjelang idul fitri. Mungkin bagi anak yang lain hal tersebut tak perlu diminta sampai menangis. Berbeda dengan yanti yang harus menangis terlebih dulu untuk mendapatkan dua keinginannya tersebut. Bagi yanti menangis sebenarnya hal yang membosankan untuk dilakukan. ia pun sadar orang tuanya bukan karena pelit tidak segera memenuhi permintaannya. Namun, karena keadaan ekonomi yang terpaksa membuat keadaan tersebut terjadi berulang kali. Ketika bapak sudah marah besar, yanti selalu dihadapkan dengan dua pilihan lanjut sekolah atau berhenti sekolah dengan buku-buku sekolah bapak bakar semua. Jika sudah seperti itu, yanti hanya bisa menahan tangisnya, terasa sesak di dada. Saat itu ia bertekad bahwa jangan sampai adik satu-satunya mengalami hal yang sama, bagaimanapun caranya adiknya harus lebih baik nasibnya dari dirinya. Dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama mengecewakan. lanjut sekolah dengan tidak membawa uang bayaran itu tandanya ia harus meminta kartu ujian sementara dan harus berhadapan dengan tata usaha sekolah. Tidak sulit, namun malu karena tidak satu atau dua kali saja tapi sudah terlalu sering. Belum lagi harus berbeda warna kartu ujiannya, ketika teman-teman mengambil kartu warna putih berbeda dengan yanti yang harus mengambil kartu warna kuning. 
Percakapan dengan bagian tata usaha 
Yanti: Pak, maaf yanti belum bisa bayaran, bapak yanti blum punya uang, boleh gak yanti ambil kartu ujian.
Bapak TU: Yanti...yanti udah dapat bantuan dari sekolah cuma suruh bayaran setengahnya saja telat.
Yanti: Ya elah pak nanti juga yanti bayar kalau bapak yanti udah punya uang
Bapak TU: kapan?
Yanti: Ya nanti kalau udah ada... 
Bapak TU: ya udah nih pakai kartu warna kuning dulu ya
Yanti: Tapi boleh ikut ujian kan?
Bapak TU: iya boleh, tapi nanti paling ditanya-tanya sama pengawasnya. he....siap-siap aja....(dengan raut muka ngeledek)
Yanti: Siap lah apapun yang terjadi, siap menanggung
Bapak TU: Ya palingan juga nanti yanti ngeluarin jurus terakhir, nangis deh
Yanti: Tuh bapak tau
Bapak TU: yan, ada telor gak?
Yanti: Gak tau pak, kemaren sih masih dikit.
Bapak TU: kalau ada, bapak mau beli
Yanti: butuh berapa?
Bapak TU: 10 biji aja
Yanti: Ya udah nanti kalau ada, yanti bawa besok.
Bapak TU: di tambahin dong yan...bonus gituh
Yanti: mmm...bonus-bonus ..ya bonusnya buat yantilah..ongkos jalan kali pak
Bapak TU: Yanti koret pisan (bahasa Sundanya pelit)
Yanti: Biar cepet kaya..ha.....
Bapak yanti mempunyai beberapa ekor bebek dan terkadang yanti bawa telor bebek pesanan bapak/ibu guru dan orang TU ke sekolah. Walau kadang telor bebek yang yanti bawa ada yang pecah, namun bapak dan ibu guru tetap membeli telor bebek tersebut tanpa mengurangi harga karena bapak dan ibu guru tahu kalau uangnya buat beli keperluan sekolah yanti. Salah satu cara biar bisa ketawa itu bercanda sama orang-orang TU. Biarpun sering kena sindiran karena telat bayaran tapi kalau udah ngumpul sama bapak sama ibu TU bakal ketawa ngakak. 

Hari pertama ujian
Pengawas masuk
Pengawas menyuruh murid berbaris  dan mengecek kartu ujian murid satu per satu.
Yanti: Aduh siap-siap nih warna kartu berbeda, mana pengawasnya Pak setiawan, bakal diledekin ini mah, aduh. (dengan hati dag dig dug, yanti menyerahkan kartu ujiannya). Alhamdulillah lolos tanpa di tanya satu kalimatpun.
Pengawas membagikan soal ujian dan lembar jawaban dan serempak peserta ujian semester mulai mengisi soal-soal ujian.
Pengawas: yan, kartu kunaon beda sorangan? (Yan, kenapa kartu beda sendiri?)
Yanti: Pura-pura sibuk ngerjain soal-soal ujian semester
Pengawas: yan, eta kunaon kartu koneng sorangan? (Yan, itu kenapa kartu kuning sendiri?)
Yanti: Bapak mah nanya-nanya terus, yanti lagi konsen ngerjain nih soal
Pengawas: Sok ari teu daek ngajawab pertanyaan bapak, ke ku bapak titah kaluar ruangan (Sok kalau gak mau menjawab pertanyaan bapak, nanti bapak suruh ke luar ruangan)
Yanti: Yanti belum lunas bayarannya bapak
pengawas: can lunas, sok atuh kaluar da can lunas bayaranna (belum lunas, kalau gituh keluar soalnya belum lunas bayarannya)
Yanti: Tuh tadi katanya suruh jawab pertanyaan bapak biar gak dikeluarin dari ruangan
Pengawas: Da bapak teu terang yanti can bayaran, sugan teh eta kartu warnana koneng pedah kasiram ku naon (bapak gak tau kirain itu kartu warna kuning karena kesiram apa) dengan muka serius padahal lagi ngerjain yanti
Yanti: Trus yanti harus keluar nih pak? dengan muka polos dan mata berkaca-kaca
pengawas: Geus heunteu-heunteu, hereuy bapak mah yan, geus ulah ceurik. (udah gak-gak, bercanda bapak mah, udah jangan nangis)
Yanti: Bapak mah....lanjut mengerjakan soal ujian.
Yanti dikenal dengan salah satu murid yang humoris, jadi ketika ada sesuatu tentang dirinya yang bisa dijadikan bahan ledekan, guru-guru yang humoris juga akan memanfaatkannya, salah satunya yaitu pak setiawan. Pak setiawan adalah guru mata pelajaran komputer. Saat itu beliau belum menikah dan dikenal dengan guru yang gaul dan guru bontot kesayangan kepala sekolah. Karena usianya yang tidak jauh berbeda dengan muridnya membuat guru yang satu ini sangat akrab dengan muridnya termasuk dengan yanti. 

Dalam ekonomi mungkin yanti kurang beruntung, namun kedua orang tuanya amat sayang padanya. Setelah pulang mengaji, ia mengerjakan tugas-tugas sekolah dan biasanya jika tidak ada tugas sekolah, ia lebih senang mengisi LKS. Ketika belajar bapak dan ibu yanti selalu ada di samping yanti. Keadaan seperti ini yang membuat yanti terus semangat belajar dan yakin jika suatu saat nanti, ia pasti akan sukses dan bisa mengenyam pendidikan tinggi. Sering sekali yanti ketiduran setelah selesai belajar. Kemudian ibu membereskan buku-buku belajar dan bapak yanti akan mengangkat yanti untuk dipindahkan ke tempat tidur. Ya Allah, izinkan yanti untuk membuat bangga kedua orang tua yanti dan membuat mereka bahagia. Kalimat ini yang selalu yanti panjatkan ketika ia di angkat ke tempat tidur oleh bapaknya. Ia sadar teramat besar kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya walaupun terkadang bapak marah ketika ia meminta bayaran dan baju baru. Ia sadar betapa sakitnya hati kedua orang tuanya ketika melihat putrinya menangis untuk meminta sesuatu namun tidak bisa mengabulkan permintaan putrinya dengan segera. Terkadang yanti menangis di kamar setelah bapaknya ke luar dari kamarnya. Yanti sadar akan tingkah lakunya yang kurang sabar. Semakin memikirkan akan keadaan ekonomi keluarga, ia semakin semangat dalam memperjuangkan cita-citanya.

Bersyukur tidak hanya orang tua yang menyayangi yanti. Namun, teman-teman sekelaspun sangat peduli padanya. Ketika yanti tidak mempunyai buku paket belajar, teman-temannya bersedia untuk meminjamkan buku paketnya walau hanya sehari atau dua hari. Ia mempunya sahabat yang sudah seperti keluarga namaya teh fitri. Persahabatan mereka dimulai dari SMP kelas satu sampai sekarang. Ketika dibangku SMP mereka tidak satu kelas, mereka hanya satu kelas ketika SMA kelas 2 dan 3. Walaupun demikian persahabatan mereka tidak diragukan lagi. Mereka berdua siap membantu satu sama lain. Saat sepeda yanti rusak teh fitri siap membonceng yanti. Sebaliknya ketika sepeda teh fitri rusak yantipun melakukan hal yang sama. Mereka saling berbagi cerita, kebahagiaan dan kesedihan mereka lalui bersama. Bahkan tidak jarang guru yang memanggil terbalik nama mereka karena saking dekatnya persahabat mereka. Dari teh fitri, ia belajar banyak hal terutama kemandirian. Teh fitri bukanlah dari kalangan keluarga yang sama seperti yanti. Namun, teh fitri adalah sosok yang mandiri, ia selalu membeli buku pelajaran sekolah dari uang saku yang dikumpulkannya. Teh fitri jarang sekali meminta uang saku kepada orang tuanya padahal teh fitri berasal dari keluarga menengah ke atas. Keluarganya memiliki toko kelontong yang cukup besar dan terkenal laris, mempunyai mobil dan rumahnya cukup besar. Keadaan tersebut tidak membuat dirinya sombong dan hidup dengan berhura-hura. Justru sebaliknya, ia selalu mengajarkan yanti agar hidup mandiri dan mencoba mengatur kebutuhan sendiri. Yanti senang meniru perilaku sahabat-sahabatnya yang positif. Ketika yanti sedih dengan keadaanya, ia akan melihat temannya yang di bawahnya. Maka yantipun akan kembali semangat dan terkadang memotivasi teman-teman yang nasibnya tak jauh berbeda denganya.


Saya tak punya harta namun saya punya orang tua dan sahabat-sahabat yang menyayangi saya. Kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya, kebahagiaan milik kita yang bersyukur. Ya Rabb terima kasih, Engkau utus orang-orang yang selalu menyayangi hambaMU ini. Diri ini malu karena sering mengeluh akan keadaan hidup ini. Maafkan diri ini yang terkadang futur akan nikmatMU. Ya Rabb mudahkan hambaMU ini untuk membahagiakan orang-orang yang menyayangi hamba. Izinkan diri ini mengukir senyuman indah kedua orang tua sebelum Engkau mengambil salah satu dari kami. amin.

By
-SPS-




Senin, 30 Mei 2016

motivasi

kisah nyata dari seorang pelajar yang berasal dari keluarga sederhana.

Ada seorang anak yang berumur 15 tahun, dia berasal dari keluarga kalangan menegah ke bawah. Dia bernama Yanti Firda Firdaus, panggil saja dia yanti. Ketika itu dia lulus SMP dan sedang bingung dengan nasib pendidikan selanjutnya. Ketika teman-teman seperjuangnnya sibuk kesana kemari untuk memilih sekolah SMA favoritnya, berbeda dengan dirinya yang masih bingung akan nasibnya. lanjut sekolah adalah impiannya bahkan dia ingin sekali bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Namun, apa daya keadaan ekonomi keluargalah yang akhirnya membuatnya harus berpikir keras untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Besok adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru SMA tapi sampai saat ini bapak masih belum bisa memutuskan apakah saya lanjut sekolah atau tidak. Bapak bilang kalau yanti lanjut SMA nanti dari mana biayanya. Yantipun terus berpikir bagaimana caranya dia mendapatkan uang nanti untuk biaya sekolahnya. malam pun tiba, mesti belum tentu akan melanjutkan sekolah, yanti tetap belajar. Ketika dibangku SD dan SMP Yanti dikenal salah satu siswa yang cukup pandai akan pelajaran matematika. Malam itu yanti belajar matematika dengan santainya padahal dia tahu hari besok adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru SMA.

Ibu: Yan lagi ngapain?
Yanti: gak lagi ngapa-ngapain bu
Ibu: Ko masih blajar yan, kan bapak sudah bilang gak bisa biayain sekolah yanti lagi
Yanti: Tapi bu....Yanti ingin lanjut SMA kaya teman-teman Yanti, Kemaren pak guru bilang kalau yanti harus lanjut sekolah SMA, kata pak guru sayang kalau gak dlanjutin ke SMA.
Ibu: Iya, ibu juga inginnya begitu, tapi kan yanti lihat sendiri bapak sama ibu gak punya uang, bapak sama ibu cuma kuli tani.penghasilan ibu cuma cukup buat bayar ade yanti sekolah. Yanti kan tau kemaren pas Yanti SMP saja, yanti sering telat bayaran, trus gak pernah beli buku LKS. emang Yanti gak cape harus nulis setiap bapak/ibu guru ngaih tugas dari LKS. ketika teman-teman Yanti sibuk menjawab, Yanti baru sibuk nulis soal-soalnya. Ibu kasihan sama Yanti. Ibu gak mau lihat anak ibu cape.
Yanti: Gak papa bu, Yanti siap ko dengan resiko nanti, yang penting yanti lanjut sekolah bu.
Ibu: Kalau nanti dari sekolah minta uang gedung, terus kita gak mampu bayar gimana yan? (dengan raut muka sedih)
Yanti: Ibu sekarang yang penting Bapak sama ibu kasih restu buat yanti mendaftar ke SMA. Apapun yang akan terjadi besok, yanti siap, yang terpenting kita sudah berusaha.
Ibu: Emang mau daftar ke SMA mana yan?
Yanti: Yanti mau daftar ke SMA negeri 2 ......
Ibu: Uang pendaftarannya gimana?
Yanti: Kata pak opoy (nama guru samaran) cuma Rp 7.000
Ibu: ko Rp 7.000
Yanti: iya bu itu buat formulir aja. nanti biaya yang lain dibayarnya kalau udah masuk sekolah.
Ibu: Yanti punya uang segitu gak:?
Yanti: Yanti cuma punya Rp3.000 bu masih kurang Rp 4.000
Ibu: oh...ya sudah coba minta sama bapak
Yanti: Beneran ibu izini yanti sekolah lagi.
Ibu: Iya Insya Allah kita hadapi bareng-bareng kedepannya. Tapi Yanti harus bisa dapat beasiswa biar bapak sama ibu gak berat biayain sekolahnya.
Yanti: Iya bu, yanti siap berusaha keras. Demi impian yanti dan demi senyuman ibu sama bapak.
Ibu: ya sudah sana minta uang yang Rp4.000 sama bapak ya. 

Ibu pergi sambil mengelap air mata. Ibu yanti adalah sosok ibu yang ketika menangis tidak ingin terlihat oleh anak-anaknya. Seberat apapun cobaan yang dipikul, ibu yanti akan berusaha untuk menutupinya.
Besok harinya yantipun mendaftar sebagai siswa baru di sekolah yang baru berdiri yaitu SMA Negeri 2....Biaya sekolah di sini lebih murah dibanding dengan sekolah-sekolah yang lain. Mungkin karena masih baru berdiri. Yanti dan teman-teman adalah angkatan pertama di sekolah ini. Ketika kegiatan Masa Orientasi Siswa, yanti dan teman-teman dibimbing oleh siswa dari SMA negeri 1....kebahagian yang amat mendalam,mungkin seperti mimpi bisa mengikuti kegiatan ini. kemaren yanti masih bingung dan sedih bisa sekolah lagi atau tidak, sekarang yanti sudah di SMA, Ya Rabb terima kasih atas nikmat MU. Yantipun terus mengucapkan rasa syukur itu. Hingga beberapa bulan yanti nikmati sekolahnya dan datang suatu masa dimana dia ditaggih uang bayaran dan uang bangunan. mmmm...lemes seketika....Ya Rabb ini harus bagaimana bapak blum punya uang. Kemudian yantipun memberanikan diri untuk bilang ke bapaknya kalau sudah ditaggih uang sekolahnya.

Yanti: pak, mmmm....tadi Yanti ditaggih uang gedung
Bapak: Uang gedung...(terdiam sejenak)....berapa bapak lupa
Yanti: Rp 2.000.000 pak
Bapak: Rp 2.000.000 ya udah nanti coba bapak pinjem ke Uwa (panggilan untuk kakak dari Ibu/bapak)
Yanti: iya pak
Sudah beberapa hari tapi bapak belum ngasih juga, gimana ini, yantipun kebingungan. Akhirnya yanti bertanya lagi.
Yanti: pak uang untuk bayar sekolah sudah ada blum?
Bapak: uwa cuma pinjemin Rp 1.000.000 yan
Yanti: Gak papa pak, nanti biar yanti bicara sama ibu guru. kalau baru bisa bayar segituh.
Bapak: oh ya udah nanti bapak bilang uwa dulu ya.
Yanti: iya pak

akhirnya yanti bayar Rp1.000.000 dan meminta perpanjangan waktu kepada pihak sekolah. Alhamdulillah pihak sekolah memberi perpanjangan waktu hingga akhir semester 2. inilah nikmat Allah yang lagi-lagi diberikan kepada hambaNya.
Di SMA yanti dikenal dengan siswa yang pandai Matematika dan aktif organisasi. Dia mengikuti organisasi Bantara dan Paskibra. Setiap hari jumat dia mengikuti latihan Bantara dan hari minggu latihan Paskibra. Di organisasi ini Yanti diajarkan mandiri , perduli dengan sesama, siap berkorban untuk negara dan masih banyak pelajaran yang bisa diambil dari organisasi ini.Tidak hanya sibuk organisasi saja, Yanti juga mengikuti les matematika bersama teman-teman yang akan mengikuti olimpiade matematika. Dengan perjuangannya akhirnya yantipun mendapat bantuan dari pihak sekolahnya. Setiap tahun yanti hanya membayar biaya kuliah satu semester saja sedangkan yang satu semesternya lagi gratis dengan syarat harus aktif di organisasi dan nilai akademiknya juga bagus. Yanti menyanggupi syarat tersebut. Tidak hanya itu bapak dan ibu guru Matematika selalu memberikan perhatian lebih kepada yanti. setiap awal semester yanti selalu di berikan buku paket matematika dan alat tulis. Subhanallah....nikmatMU teramat banyak. Keyakinan untuk sukses semakin kuat. hari-hari berikutnya dijalani yanti lebih semangat. Setiap pulang sekolah yanti mencari uang. terkadang disuruh tetangga atau saudara mengantarkan padi ke pabrik dengan sepeda untuk digiling. Berat...sudah pasti berat..tapi yanti menjalaninya dengan senang. terkadang membantu mencuci mangkok baso punya kakaknya atau membantu beres-beres di rumah neneknya. Uang yang di kasih oleh saudara, tetangga, kakak, dan neneknya ia kumpulkan. Uang yang terkumpul untuk membeli LKS jadi tidak minta ke bapak lagi. Alhamdulillah bisa memperingan beban bapak dan ibu. hal ini yanti lakukan hingga dia lulus SMA.
Bersambung...
nantikan kisah selanjutnya
Yanti di bangku kuli dan yanti di bangku kuliah
Semoga teman-teman senang membacanya.

By
-SPS-