Minggu, 05 Juni 2016

Perjuangan Mahasiswa perantau dan pekerja



Perjuangan Mahasiswa perantau dan pekerja

Kami langkahkan kaki ini menuju kota, meninggalkan kampung halaman tercinta untuk mengejar sebuah cita-cita. Hidup dengan penuh suka cita membuat hidup lebih berwarna dan berharga. Kami adalah manusia-manusia yang hanya bisa terus berusaha untuk mewujudkan satu persatu impian yang telah lama kami ukir dengan penuh keyakinan. kami tekadkan hati ini untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan hasil dari kerja keras kami. Perjalanan yang kami lalui tidak selalu mulus namun banyak batu-batu kerikil yang membuat kaki ini tidak bisa berjalan dengan cepat. Terkadang kaki kami terkilir bahkan berdarah dalam melalui perjalanan hidup ini. Namun, hal ini tidak memadamkan semangat kami untuk terus mengejar impian kami. Kami adalah pejuang-pejuang yang ingin memajukan kehidupan keluarga baik dalam segi ekonomi ataupun pendidikan. kami harus berjuang untuk menghasilkan pundi-pundi uang untuk biaya kuliah kami. Siang malam kami bagi waktu untuk bekerja, kuliah dan istirahat. Lelah? semua perjuangan memang melelahkan, begitupun dengan kami, kami yang terkadang merasa lelah dengan jalan hidup ini. Waktu bagi kami sangat berharga, hari libur kerja kami gunakan untuk mengerjakan tugas kuliah yang sudah menumpuk. Ketika mahasiswa lain tertidur pulas, mungkin berbeda dengan kami yang harus berdiri di depan mesin pencetak makanan ataupun barang-barang elektonik dan otomotif semalaman. Ngantuk? sudah pasti ngantuk, namun apa daya, ini adalah kewajiban kami sebagai kuli-kuli pabrik. Jika kami berhenti bekerja maka itu bertanda ancaman bagi keberlangsungan pendidikan kami. Tidak sedikit dari kami yang kebingungan bahkan menangis ketika menjelang ujian karena belum bisa melunasi biaya kuliah. Uang kuliah yang semakin meningkat membuat hidup kami semakin terpuruk. Kami bertahan dengan saling membantu dan menyemangati satu sama lain. Tidak jarang diantara kami yang mengabaikan kondisi kesehatan sendiri, yang terpikir oleh kami hanya bagaimana kami bisa menghasilkan uang dan bisa lancar kuliah. Namun, kami merasa bersyukur karena Allah telah mempererat ikatan persahabatan kami. Jika salah satu diantara kami sakit maka teman yang lain akan mengingatkan yang sakit walau hanya sekedar mengingkatkan untuk beristirahat. Kami hanya berharap perjuangan ini berujung kebahagiaan. kami berharap impian yang kami nanti-nantikan akan terwujud. Ya, Kami para mahasiswa perantau dan pekerja yang berusaha mengejar impian kami.

Semangat buat teman-teman pekerja yang sedang mengejar cita-cita. yakinlah perjuangan kalian tidak akan sia-sia. PIKIRKAN dan LAKUKAN SEGERA, JALANI dan NIKMATI.

By:
-SPS-

Rabu, 01 Juni 2016

Bukan kekayaan yang membuat kita bahagia


Kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya

Hidup berkecukupan merupakan keinginan bagi setiap manusia. Namun, terkadang kenyataan amat berbeda. Kebanyakan masyarakat desa harus menguras keringatnya hanya untuk bertahan hidup, begitupun dengan keluarga yanti. Ayah dan ibu yanti berprofesi sebagai buruh tani. Setiap hari harus pergi ke sawah untuk bekerja sebagai buruh tani. Penghasilan rata-rata keluarga yanti Rp40.000. uang inilah yang digunakan keluarga yanti untuk kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah yanti dan adiknya. Terkadang jika tidak ada tetangga yang menggunakan jasa ibu dan bapak, ibu harus meminjam uang ke saudara  untuk jajan yanti dan adiknya di sekolah. Jika saudara tidak ada uang terkadang ibu yanti menjual beras. Yanti memang terkadang marah jika tidak dikasih uang jajan karena ia sekolah seharian. Ia selesai belajar pukul 14.00 dilanjut organisasi atau mengerjakan tugas kelompok. yanti meminta uang saku tidak setiap hari tetapi jika memang ada kegiatan les tambahan, organisasi atau akan mengerjakan tugas di rumah teman. Uang yang dikasih ibu biasanya ia gunakan untuk membeli gorengan atau minum sekedar untuk mengisi perut. Ketika teman-teman yang lain membeli makanan seperti mie ayam dan baso, bagi yanti cukup gorengan saja. Makan mie ayam atau baso hanya pada saat-saat tertentu saja ketika ada moment spesial, seperti moment kenaikan kelas atau ulang tahun teman. Jika uang jajan tersebut tidak digunakan maka ia akan mengumpulkan uang tersebut untuk membeli kebutuhan sekolah. 
Yanti adalah anak ke 5 dari 6 bersaudara dan semua kakaknya sudah berkeluarga. Menurut Bapak dan Ibunya, ia dikenal sebagai anak yang keras kepala. Jika meminta sesuatu harus dituruti, jika tidak dituruti, ia akan menangis sampai ibu dan bapaknya menuruti apa yang menjadi keinginannya. Ketika ayahnya marah tak jarang yanti disiram dengan air seember. Namun, yanti terus menangis tak menghiraukan ayahnya. Yanti tak pernah meminta hal yang lain kecuali meminta bayaran saat esok hari akan ujian dan meminta baju baru ketika menjelang idul fitri. Mungkin bagi anak yang lain hal tersebut tak perlu diminta sampai menangis. Berbeda dengan yanti yang harus menangis terlebih dulu untuk mendapatkan dua keinginannya tersebut. Bagi yanti menangis sebenarnya hal yang membosankan untuk dilakukan. ia pun sadar orang tuanya bukan karena pelit tidak segera memenuhi permintaannya. Namun, karena keadaan ekonomi yang terpaksa membuat keadaan tersebut terjadi berulang kali. Ketika bapak sudah marah besar, yanti selalu dihadapkan dengan dua pilihan lanjut sekolah atau berhenti sekolah dengan buku-buku sekolah bapak bakar semua. Jika sudah seperti itu, yanti hanya bisa menahan tangisnya, terasa sesak di dada. Saat itu ia bertekad bahwa jangan sampai adik satu-satunya mengalami hal yang sama, bagaimanapun caranya adiknya harus lebih baik nasibnya dari dirinya. Dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama mengecewakan. lanjut sekolah dengan tidak membawa uang bayaran itu tandanya ia harus meminta kartu ujian sementara dan harus berhadapan dengan tata usaha sekolah. Tidak sulit, namun malu karena tidak satu atau dua kali saja tapi sudah terlalu sering. Belum lagi harus berbeda warna kartu ujiannya, ketika teman-teman mengambil kartu warna putih berbeda dengan yanti yang harus mengambil kartu warna kuning. 
Percakapan dengan bagian tata usaha 
Yanti: Pak, maaf yanti belum bisa bayaran, bapak yanti blum punya uang, boleh gak yanti ambil kartu ujian.
Bapak TU: Yanti...yanti udah dapat bantuan dari sekolah cuma suruh bayaran setengahnya saja telat.
Yanti: Ya elah pak nanti juga yanti bayar kalau bapak yanti udah punya uang
Bapak TU: kapan?
Yanti: Ya nanti kalau udah ada... 
Bapak TU: ya udah nih pakai kartu warna kuning dulu ya
Yanti: Tapi boleh ikut ujian kan?
Bapak TU: iya boleh, tapi nanti paling ditanya-tanya sama pengawasnya. he....siap-siap aja....(dengan raut muka ngeledek)
Yanti: Siap lah apapun yang terjadi, siap menanggung
Bapak TU: Ya palingan juga nanti yanti ngeluarin jurus terakhir, nangis deh
Yanti: Tuh bapak tau
Bapak TU: yan, ada telor gak?
Yanti: Gak tau pak, kemaren sih masih dikit.
Bapak TU: kalau ada, bapak mau beli
Yanti: butuh berapa?
Bapak TU: 10 biji aja
Yanti: Ya udah nanti kalau ada, yanti bawa besok.
Bapak TU: di tambahin dong yan...bonus gituh
Yanti: mmm...bonus-bonus ..ya bonusnya buat yantilah..ongkos jalan kali pak
Bapak TU: Yanti koret pisan (bahasa Sundanya pelit)
Yanti: Biar cepet kaya..ha.....
Bapak yanti mempunyai beberapa ekor bebek dan terkadang yanti bawa telor bebek pesanan bapak/ibu guru dan orang TU ke sekolah. Walau kadang telor bebek yang yanti bawa ada yang pecah, namun bapak dan ibu guru tetap membeli telor bebek tersebut tanpa mengurangi harga karena bapak dan ibu guru tahu kalau uangnya buat beli keperluan sekolah yanti. Salah satu cara biar bisa ketawa itu bercanda sama orang-orang TU. Biarpun sering kena sindiran karena telat bayaran tapi kalau udah ngumpul sama bapak sama ibu TU bakal ketawa ngakak. 

Hari pertama ujian
Pengawas masuk
Pengawas menyuruh murid berbaris  dan mengecek kartu ujian murid satu per satu.
Yanti: Aduh siap-siap nih warna kartu berbeda, mana pengawasnya Pak setiawan, bakal diledekin ini mah, aduh. (dengan hati dag dig dug, yanti menyerahkan kartu ujiannya). Alhamdulillah lolos tanpa di tanya satu kalimatpun.
Pengawas membagikan soal ujian dan lembar jawaban dan serempak peserta ujian semester mulai mengisi soal-soal ujian.
Pengawas: yan, kartu kunaon beda sorangan? (Yan, kenapa kartu beda sendiri?)
Yanti: Pura-pura sibuk ngerjain soal-soal ujian semester
Pengawas: yan, eta kunaon kartu koneng sorangan? (Yan, itu kenapa kartu kuning sendiri?)
Yanti: Bapak mah nanya-nanya terus, yanti lagi konsen ngerjain nih soal
Pengawas: Sok ari teu daek ngajawab pertanyaan bapak, ke ku bapak titah kaluar ruangan (Sok kalau gak mau menjawab pertanyaan bapak, nanti bapak suruh ke luar ruangan)
Yanti: Yanti belum lunas bayarannya bapak
pengawas: can lunas, sok atuh kaluar da can lunas bayaranna (belum lunas, kalau gituh keluar soalnya belum lunas bayarannya)
Yanti: Tuh tadi katanya suruh jawab pertanyaan bapak biar gak dikeluarin dari ruangan
Pengawas: Da bapak teu terang yanti can bayaran, sugan teh eta kartu warnana koneng pedah kasiram ku naon (bapak gak tau kirain itu kartu warna kuning karena kesiram apa) dengan muka serius padahal lagi ngerjain yanti
Yanti: Trus yanti harus keluar nih pak? dengan muka polos dan mata berkaca-kaca
pengawas: Geus heunteu-heunteu, hereuy bapak mah yan, geus ulah ceurik. (udah gak-gak, bercanda bapak mah, udah jangan nangis)
Yanti: Bapak mah....lanjut mengerjakan soal ujian.
Yanti dikenal dengan salah satu murid yang humoris, jadi ketika ada sesuatu tentang dirinya yang bisa dijadikan bahan ledekan, guru-guru yang humoris juga akan memanfaatkannya, salah satunya yaitu pak setiawan. Pak setiawan adalah guru mata pelajaran komputer. Saat itu beliau belum menikah dan dikenal dengan guru yang gaul dan guru bontot kesayangan kepala sekolah. Karena usianya yang tidak jauh berbeda dengan muridnya membuat guru yang satu ini sangat akrab dengan muridnya termasuk dengan yanti. 

Dalam ekonomi mungkin yanti kurang beruntung, namun kedua orang tuanya amat sayang padanya. Setelah pulang mengaji, ia mengerjakan tugas-tugas sekolah dan biasanya jika tidak ada tugas sekolah, ia lebih senang mengisi LKS. Ketika belajar bapak dan ibu yanti selalu ada di samping yanti. Keadaan seperti ini yang membuat yanti terus semangat belajar dan yakin jika suatu saat nanti, ia pasti akan sukses dan bisa mengenyam pendidikan tinggi. Sering sekali yanti ketiduran setelah selesai belajar. Kemudian ibu membereskan buku-buku belajar dan bapak yanti akan mengangkat yanti untuk dipindahkan ke tempat tidur. Ya Allah, izinkan yanti untuk membuat bangga kedua orang tua yanti dan membuat mereka bahagia. Kalimat ini yang selalu yanti panjatkan ketika ia di angkat ke tempat tidur oleh bapaknya. Ia sadar teramat besar kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya walaupun terkadang bapak marah ketika ia meminta bayaran dan baju baru. Ia sadar betapa sakitnya hati kedua orang tuanya ketika melihat putrinya menangis untuk meminta sesuatu namun tidak bisa mengabulkan permintaan putrinya dengan segera. Terkadang yanti menangis di kamar setelah bapaknya ke luar dari kamarnya. Yanti sadar akan tingkah lakunya yang kurang sabar. Semakin memikirkan akan keadaan ekonomi keluarga, ia semakin semangat dalam memperjuangkan cita-citanya.

Bersyukur tidak hanya orang tua yang menyayangi yanti. Namun, teman-teman sekelaspun sangat peduli padanya. Ketika yanti tidak mempunyai buku paket belajar, teman-temannya bersedia untuk meminjamkan buku paketnya walau hanya sehari atau dua hari. Ia mempunya sahabat yang sudah seperti keluarga namaya teh fitri. Persahabatan mereka dimulai dari SMP kelas satu sampai sekarang. Ketika dibangku SMP mereka tidak satu kelas, mereka hanya satu kelas ketika SMA kelas 2 dan 3. Walaupun demikian persahabatan mereka tidak diragukan lagi. Mereka berdua siap membantu satu sama lain. Saat sepeda yanti rusak teh fitri siap membonceng yanti. Sebaliknya ketika sepeda teh fitri rusak yantipun melakukan hal yang sama. Mereka saling berbagi cerita, kebahagiaan dan kesedihan mereka lalui bersama. Bahkan tidak jarang guru yang memanggil terbalik nama mereka karena saking dekatnya persahabat mereka. Dari teh fitri, ia belajar banyak hal terutama kemandirian. Teh fitri bukanlah dari kalangan keluarga yang sama seperti yanti. Namun, teh fitri adalah sosok yang mandiri, ia selalu membeli buku pelajaran sekolah dari uang saku yang dikumpulkannya. Teh fitri jarang sekali meminta uang saku kepada orang tuanya padahal teh fitri berasal dari keluarga menengah ke atas. Keluarganya memiliki toko kelontong yang cukup besar dan terkenal laris, mempunyai mobil dan rumahnya cukup besar. Keadaan tersebut tidak membuat dirinya sombong dan hidup dengan berhura-hura. Justru sebaliknya, ia selalu mengajarkan yanti agar hidup mandiri dan mencoba mengatur kebutuhan sendiri. Yanti senang meniru perilaku sahabat-sahabatnya yang positif. Ketika yanti sedih dengan keadaanya, ia akan melihat temannya yang di bawahnya. Maka yantipun akan kembali semangat dan terkadang memotivasi teman-teman yang nasibnya tak jauh berbeda denganya.


Saya tak punya harta namun saya punya orang tua dan sahabat-sahabat yang menyayangi saya. Kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya, kebahagiaan milik kita yang bersyukur. Ya Rabb terima kasih, Engkau utus orang-orang yang selalu menyayangi hambaMU ini. Diri ini malu karena sering mengeluh akan keadaan hidup ini. Maafkan diri ini yang terkadang futur akan nikmatMU. Ya Rabb mudahkan hambaMU ini untuk membahagiakan orang-orang yang menyayangi hamba. Izinkan diri ini mengukir senyuman indah kedua orang tua sebelum Engkau mengambil salah satu dari kami. amin.

By
-SPS-